Headline Kemahasiswaan

KULIAH UMUM: Paradigma Pendidikan Era Milenia (Revolusi Industri 4.0)

KULIAH UMUM: Paradigma Pendidikan Era Milenia (Revolusi Industri 4.0)

Prof. Dr. Jasruddin, M.Si. (LLDIKTI WILAYAH IX)

Gedung Oentaeluwu, Soroako-SulSel (23 Oktober 2018)

ditulis oleh : Ir. Duddy Arisandi, S.T., M.T.

Istilah era milenia lebih dikenal dengan generasi jaman Now, yang disebut juga dengan generasi konseptual. Tahapan perkembangannya ditandai melalui era pertanian, era industrialisasi, era informasi, dan masuk ke era revolusi industri 4.0 (tahapan pada setiap era memerlukan waktu sekitar 100 tahunan). Sebagai konsekuensinya adalah suka atau tidak suka kita semua harus berpindah/melalui era revolusi Industri 4.0 yang memiliki karakteristik perubahan teknologi yang sangat besar dan sangat cepat, sulit diprediksi, dan menimbulkan dampak seperti harga produk menjadi lebih murah (lahirnya teknologi baru yang lebih canggih dengan harga yang relatif lebih murah). Sehingga, di era milenia ini serta kedepannya, suka atau tidak suka kita semua harus bersahabat dengan teknologi (teknologi sebagai alat bantu suatu proses). Khususnya di dunia pendidikan sudah bukan jamannya melarang siswa membawa HP atau android ke kelas. Karena alat tersebut akan digunakan dalam proses belajar (salah satu alat penentu proses pembelajaran). Berdasarkan hasil survey, rata-rata orang bertahan selama 7 menit untuk tidak bersentuhan/menggunakan aplikasi di HP.

Di era milenia ini, seorang guru tidak boleh “buta huruf” dalam arti :

  1. Tidak mau bersahabat dengan teknologi (kondisi yang ada sekarang hambir dapat dikatakan tidak ada kondisi yang membatasi pencarian ilmu ataupun literatur, bahkan dalam waktu yang sama proses belajar mengajarpun dapat dapat dilihat melalui streaming live).
  2. Faktor bahasa (communication skill) untuk melakukan komunikasi ataupun interaksi kepada sesama. Kita bedakan dengan kemampuan berdasarkan paper base seperti Tes TOEFL / IELTS.
  3. Konseptual “sell your idea”. Kita akan survive jika punya ide dan dibagikan kepada orang lain. Seperti terdapat di dalam hadits: “Manusia yang paling bagus karena bermanfaat bagi orang lain”. Dan merupakan salah satu bentuk kecerdasan jika ilmu yang dimiliki oleh seseorang dapat dibagikan kepada orang lain.

Sebagai konsekwensi era revolusi industri 4.0 maka dalam lingkup pendidikan akan mengalami perubahan juga. Beberapa perubahan paradigma pendidikan tersebut adalah :

Pergeseran paradigma dari “teacher center” menjadi “student center”. Kita harus menerima realita bahwa mahasiswa bukanlah “kertas kosong” (yang tidak memiliki sesuatu apapun), bahkan informasi tentang ilmu dapat diketahui lebih awal oleh mahasiswa daripada dosen/instrukturnya. Dosen secara lahiriah dan pembelajaran memiliki pengalamannya lebih banyak (sehingga dapat belajar dengan lebih cepat). Namun, jika informasi yang datang ke mahasiswa terlebih dulu, maka pengetahuan tersebut seyogyanya ada pada mahasiswa, namun dengikian jika suatu diskusi dilakukan antara mahasiswa dengan dosen maka dosen akan lebih memahaminya. Dosen berfungsi “mengimprove pengetahuan” agar menghasilkan ketrampilan (dari tidak tau menjadi tau kemudian menghasilkan ketrampilan).

Dosen harus memiliki karakter berlapang dada menghadapi sifat mahasiswa yang berasal dari era milenia. Proses transfer ilmu pengetahuan tidak hanya ditujukan pada subjek/materi pembelajarannya saja, namun dapat meningkatkan sifat honesty (kejujuran), attitudinal (sopan santun).

Anak yang baik bukanlah anak yang “tidak pernah bergerak”. Banyak bergerak diartikan sebagai potensi: kreatif, berfikir di luar kotak (thinking out of the box), gelisah atas situasi yang ada, nakal (banyak akal), dan umumnya calon pemimpin masa depan.

Rasa hormat terhadap guru harus dijaga. Umumnya, siswa yang susah mendapatkan kebahagiaan di masa depan, jika ia durhaka kepada gurunya. Kita tidak pernah mengenal istilah bekas guru, yang adalah bekas murid (karena tidak mungkin menghapus ilmu yang pernah diberikan oleh seorang guru). Ini adalah kondisi realitas seorang murid. Al-Gazhali mengatakan : “Andaikan boleh seorang hamba bersujud kepada hamba yang lainnya, maka akan saya suruh seorang murid sujud kepada gurunya, walaupun baru memberi satu buah ilmu.”

Tantangan yang akan dihadapi kedepannya merupakan kemampuan di dalam complex problem solving, social skill (negoisasi, koordinasi, mediasi, kepekaan dalam memberikan bantuan).

Ancaman di era digital ini adalah jumlah yang besar pekerja yang akan digantikan oleh mesin, namun hal tersebut tidak perlu dikuatirkan, karena lapangan kerja yang lebih besar akan tercipta jika orang punya ide.

Perilaku, pengetahuan, dan ketrampilan harus berjalan beriringan : Teknologi yang tinggi akan memerlukan orang yang bijak dan berkarakter, sehingga tercipta budaya memberikan apresiasi atas karya orang lain, sekecil apapun karya orang tersebut.

Kondisi umum yang dijumpai, bahwa PT Swasta di Indonesia jarang yang menjadi unggul. Kondisi sebaliknya dengan pendidikan di Luar Negeri, bahwa PT swasta lebih unggul, kenapa hal tersebut bisa terjadi ?

Untuk mengejar ketertinggalan yang ada, dewasa ini tidak cukup hanya dengan berlari kencang, namun harus dengan “high speed” dan “jump”. Suatu rumus yang perlu diterapkan oleh PT Swasta dalam mengembangkan sumberdayanya atau mengejar ketertinggalan teknologinya adalah dengan jalan belajar /menimba ilmu dari PT yang bagus di daerah Jawa, jika kita menginginkan lembaga PT kita bagus di Wilayah Indonesia, maka belajarlah ke Luar Negeri.

Seringkali yang menjadi masalah di kita adalah “How about your dream”. Every morning you have two choices:

  1. Continuing your sleep with your dream.
  2. Wake up and chase the dream.

Gantungkanlah cita-cita kita setinggi langit, kalaupun kelak jatuh maka akan jatuh ke bintang, dan bintang itu letaknya masih tinggi.

If you loose something, you loose nothings, If you loose healt, you loose something

KESIMPULAN:

  1. Adaptasi teknologi tidak hanya dilakukan dengan berlari kencang saja, namun juga sambil melompat.
  2. Meningkatkan kepercayaan diri dengan mengkombinasikan elemen : pengetahuan, perilaku, dan ketrampilan.
  3. Mendatangkan pakar yang ahli di bidangnya untuk workshop ataupun bench marking.
  4. Tinjau beberapa aturan akademik yang tidak selaras dengan era revolusi industri 4.0.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *